Exif_JPEG_420
Pangandaran,bidik.web.id
Tudingan bahwa pengelolaan WC umum di kawasan wisata Pangandaran menjadi “ATM liar” atau ajang mencari keuntungan pribadi dibantah keras oleh para pengelolanya. Warga lokal yang selama ini mengurus fasilitas publik tersebut menilai tuduhan itu menyesatkan dan merendahkan semangat gotong royong mereka dalam menjaga citra pariwisata.
“Kami bukan pencari cuan, kami penjaga Pangandaran!” tegas salah satu pengelola yang setiap hari menjaga kebersihan WC umum di kawasan wisata.
Menurut mereka, WC umum yang sekarang bersih dan layak pakai dulunya terbengkalai: bau, rusak, dan tak terurus. Tak ada pihak yang mau mengurus hingga warga memutuskan bergerak sendiri.
Jumat (8/8/2025)
“Kalau kami diam, Pangandaran akan dipenuhi WC jorok. Apa itu yang mau ditunjukkan ke wisatawan? Ini bukan bisnis, ini pengabdian!” ujarnya berapi-api.
Pengelolaan WC dilakukan tanpa membawa nama kelompok, tanpa perintah pihak manapun, dan tanpa tendensi politik atau komersial. Semua murni inisiatif warga demi menjaga wajah pariwisata Pangandaran.
Mengenai pemasukan, mereka menjelaskan bahwa tidak ada sistem tiket maupun pungutan wajib. Pengunjung hanya memberi sumbangan sukarela ke kotak kencleng, yang seluruhnya dipakai kembali untuk kebersihan, perawatan, perbaikan fasilitas, pembayaran listrik, hingga pembelian pompa air.
“Kalau WC bersih, wisatawan senang. Itu saja motif kami,” kata mereka.
Terkait tuduhan bahwa limbah WC mencemari laut, para pengelola menegaskan sistem sanitasi yang dipakai berbasis biotank sesuai standar teknis, sehingga limbah tidak dibuang sembarangan.
“Kami paham aturan! Jangan remehkan warga lokal seolah tak mengerti lingkungan,” tegasnya.
Mereka menilai tuduhan yang dilontarkan pihak-pihak tak bertanggung jawab sebagai fitnah yang merendahkan martabat masyarakat Pangandaran. Meski begitu, para pengelola membuka diri jika Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Pangandaran ingin mengalokasikan anggaran resmi untuk perawatan fasilitas.
“Silakan, kami dukung 100%! Dengan anggaran resmi, fasilitas bisa lebih baik lagi dan dikelola lebih profesional. Tapi jangan hina kami seolah-olah koruptor WC,” ujarnya.
Warga berharap masyarakat dan wisatawan bisa melihat dengan kacamata jernih bahwa inisiatif ini telah menyelamatkan Pangandaran dari krisis sanitasi.
“Kami bukan beban. Kami benteng terakhir kebersihan wisata ini. Jangan kerdilkan niat baik kami hanya karena asumsi dangkal,” pungkasnya.( yaya)
